Generasi Piknik Pecinta Budaya, Yuk Intip Serunya Upacara Adat Meron!

Meron merupakan upacara adat yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh masyarakat Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Tradisi ini diadakan setiap memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW. Nama “Meron” diambil dari bahasa jawa, yakni suku kata “me” yang berarti “rame”; dan “ron” yang berarti “tiron”. Secara keseluruhan diartikan sebagai “ramene tiron-tiron” atau ramainya meniru. Masyarakat Sukolilo melaksanakan tradisi ini sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya leluhur dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus wadah untuk meningkatkan ketaqwaan, serta rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan rizqi yang telah diberikan.

 

Asal Mula Tradisi Meron

View this post on Instagram

MENONTON TRADISI MERON 3 。 Nah, ini adalah Meron. Gunungan yang dihiasi ronce melati. Tapi ini bukan melati asli. Ini adalah sejenis kue rengginang yang dibentuk seperti melati dirangkai dengan tali. Di atas meron ada patung ayam. Di bagian bawah ada nasi dan lauk pauk. Cerita dari Bapak, setiap pejabat desa harus membuat gunungan meron. Jadi, gunungan meronnya ada banyaaaak sekali dijajarkan di jalanan 😃 。 Ikuti postinganku berikutnya ya 😉 。 #shabda #semesta #Shabda38bulan #Shabda3tahun #shabdamenontonmeron #meron #tradisimeron #homeschooling #culture #culturestudy

A post shared by Shabda Semesta ® Homeschooler (@shabdasemesta) on

 

Meron pertama kali diperkenalkan ke lingkungan masyarakat Sukolilo, Pati pada tahun 1601 dan berlangsung hingga saat ini. Tradisi ini dilangsungkan bertepatan pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, setiap tanggal 12 Maulud. Berkaitan dengan sejarah atau legenda yang melatarbelakangi kemunculannya, tidak ada catatan atau dokumentasi resmi yang mampu menjelaskannya. Beberapa spekulasi bermunculan dan menjadi aneka versi cerita yang berkembang di masyarakat.

Salah satu versi yang berkembang di masyarakat Sukolilo adalah kisah demang Sukolilo yang bernama Ki Suta Kerta. Dahulu, Pati dan Mataram memiliki hubungan kekerabatan yang baik dan harmonis. Kedua wilayah ini sepakat mengembangkan islam yang subur dan menentang pengaruh asing. Banyak pendekar sakti Mataram yang dikirimkan ke Pati untuk melatih kemampuan keprajuritannya. Oleh karena itu, banyak pendekar Mataram yang hidup berbulan-bulan, bahkan hingga menahun di Pati. Salah satu anak cucu dari prajurit kiriman Mataram itu adalah Ki Suta Kerta. Pada suatu ketika, ia menyadari bahwa dirinya belum mengenal tanah leluhurnya nun jauh di Mataram. Namun, ia bersyukur karena tinggal di Pesantren Pati yang makmur. Berbeda halnya dengan saudaranya yang bernama Sura Kadam. Ia ingin mengabdikan dirinya pada Mataram dan memutuskan untuk pergi ke Mataram.

Sebelum berhasil menghadap Sultan, di pertengahan jalan Sura Kadam menyaksikan kerbau yang mengamuk dan menewaskan penggembalanya. Ia pun berinisiatif mengatasi keadaan dengan menjinakkan gajah dan menungganginya. Seketika, gajah yang mengamuk itu menjadi jinak dan keberhasilan Sura Kadam ini membuatnya diangkat sebagai punggawa Mataram yang khusus mengurus gajah. Suatu ketika, Sura Kadam dilimpahi tugas mempimpin pasukan Mataram menaklukan Kadipaten Pati. Setelah perang usai, Sura Kadam berniat mengunjungi Damang Sura Kerta.

Sura Karta merasa ketakutan saat melihat Sura Kadam menyambanginya. Ia takut ditangkap dan diringkus. Namun, Sura Kadam menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk menyambung tali persaudaraan. Sura Kadam juga meminta izin kepada saudaranya untuk diijinkan menginap di Sukolilo bersama para prajurit Mataram. Sura Kadam pun mengusulkan supaya mengadakan acara semacam sekaten untuk menghormati hari kelahiran Nabi Muhammad dan memberi hiburan kepada rakyat. Kemudian, keduanya sepakat untuk membuat gelanggang keramaian seperti sekaten. Rakyat menyambutkan dengan penuh suka cita. Karena itulah, tradisi ini dinamakan Meron, yang berarti “Ramene Tiron-tiron” atau keramaian yang dibuat-buat.

 

Sekilas Mirip Sekaten atau Garebeg

Sering disangka serupa, padahal bermakna beda (Foto: budayajawa.id)

 

Tradisi Meron ini sekilas mengingatkan pada tradisi Sekaten atau Garebeg, yang muncul pada pemerintahan Panembahan Senopati dari Kesultanan Mataram Islam, terutama saat melihat bentuk gunungan Meron yang mirip dengan gunungan khas Garebeg. Tradisi Meron ini memang mengadopsi kebudayaan khas Mataram Islam, meskipun pada saat itu, Sukililo merupakan wilayah kekuasaan Kabupaten Pati Pesantrenan yang dipimpin oleh Bupati Wasis Joyo Kusumo.

Dalam tradisi Meron terdapat prosesi arak-arakan gunungan yang khas. Masing-masing gunungan melambangkan nilai-nilai tertentu. Gunungan Meron umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian teratas berupa mustaka yang berbentuk lingkaran bunga aneka warna berisi ayam jago atau masjid. Ayam jago melambangkan semangat keprajuritan, sedangkan masjid melambangkan semangat keislaman, dan bunga melambangkan persaudaraan.

Bagian kedua gunungan terbuat dari roncean atau rangkaian ampyang atau kerupuk aneka warna berbahan baku tepung dan cucur atau kue tradisional berbahan baku campuran tepung dan terigu. Ampyang melambangkan perisai prajurit dan cucur melambangkan tekad manunggal atau persatuan. Bagian ketiga atau bawah gunungan disebut ancak atau penopang. Ancak Meron terdiri diri ancak atas yang melambangkan iman; ancak tengah yang melambangkan islam dan ancak bawah yang melambangkan ikhsan atau kebaikan. Semua nilai filosofis itu menjadi satu bagian terdalam dari perayaan tradisi tahunan ini, sekaligus menyemarakkan nilai-nilai persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.

 

Penulis: Fitria Yusrifa

 

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password