Penuh Kemisteriusan, Yuk Intip Magisnya Tradisi Adat Kebo Kinul

Kebo Kinul merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang berkaitan erat dengan kegiatan seni, ritual, dan kebudayaan rakyat, serta termasuk ke dalam golongan teater rakyat. Terdapat alur cerita, dialog, tari dan karawitan di dalam kesenian rakyat ini. Adapun isi cerita diambil dari legenda Desa Genengsari, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Konon, Kebo Kinul dikenal sebagai simbol kesuburan yang dilambangkan dengan penjaga tanaman berbentuk orang-orangan dari jerami.

 

Sejarah Tradisi Kebo Kinul

Penuh nuansa mistis dan magis (Foto: dictio.id)

Tradisi Kebo Kinul dipercaya memiliki daya magis yang dahsyat, karena berasal dari mantra-mantra tertentu. Sekalipun berasal dari Sukoharjo, belum ada catatan sejarah yang menyampaikan siapa pencipta kesenian rakyat ini. Beberapa cerita rakyat yang beredar di masyarakat hanya merujuk pada kisah yang melatarbelakangi kemunculan kesenian rakyat Kebo Kinul. Melihat dari tempat berasalnya kesenian ini, yakni Desa Genengsari, maka isi dari kesenian tersebut tidak jauh-jauh bercerita tentang kondisi desa agraris ini.

Pertunjukan Kebo Kinul berkisah tentang masyarakat Genengsari yang mengalami pagebluk atau wabah penyakit yang menyerang manusia maupun tanaman. Pada saat itu, warga mengalami gagal panen karena semua tanaman rusak tanpa diketahui penyebabnya. Setelah ditelusuri, ditemukanlah asal muasal rusaknya tanaman, yang tidak lain adalah akibat ulah kebo kinul. Kebo Kinul merupakan penjaga tanaman yang bersekongkol dengan tikus, celeng (babi), menthek dan berbagai hama tanaman lainnya untuk merusak tanaman milik warga.

Kebo Kinul saat itu marah besar karena tidak dihargai keberadaannya oleh warga. Para petani melalaikan kewajibannya untuk mengadakan selamatan ketika memanen hasil pertanian, sekaligus hasil kerja keras Kebo Kinul dalam bertugas menjaga semua tanaman itu. Tidak ada satupun warga yang mampu menjinakkan amarah si Kebo Kinul. Hingga kemudian, datanglah pertolongan dari Kyai Pethuk.

Kyai Pethuk berupaya merayu Kebo Kinul untuk tidak merusak semua tanaman warga. Namun, Kebo Kinul tetap bersikeras merusak semua tanaman warga. Akhirnya, peperangan sengit tak dapat terelakkan. Kyai Pethuk berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar mendapatkan petunjuk bagaimana menaklukan Kebo Kinul itu. Tak disangka, Kyai Pethuk mendapatkan sebuah keris pusaka yang digunakannya untuk menaklukkan amarah Kebo Kinul. Namun, Kebo Kinul mengajukan suatu syarat, yakni para warga wajib memberikan sesaji saat memanen hasil pertaniannya. Setelah semua warga menyanggupi, Kebo Kinul pun segera melenyapkan semua pagebluk yang didalangi olehnya. Kini, ia menjadi sahabat petani dalam menjaga dan mengolah tanaman agar terhindar dari hama.

 

Kini Menjadi Magnet Bagi Wisatawan untuk Mengunjungi Sukoharjo

Tarian ini telah melewati serangkaian proses kreasi (Foto: dictio.id)

Pada tahun 1980-an, pertunjukan Kebo Kinul dikenal sebagai dolanan anak berbentuk drama. Pemainnya dapat memerankan kerbau pembajak sawah, tikus, atau walang sangit. Seiring berjalannya waktu dan dalam rangka menyambut hangat datangnya era globalisasi, pertunjukan ini mulai dipoles sedemikian rupa hingga jauh dari kesan kuno. Aneka kreasi pun diterapkan dalam pertunjukan Kebo Kinul. Masing-masing memiliki ciri khas sehingga membentuk semacam aliran, misalnya Kebo Kinul Polokarto, Nguter dan POPK. Khusus Kebo Kinul kreasi Polokarto merupakan garapan budayawan Joko Ngadimin.

Joko mengreasikan Kebo Kinul dengan tembang geguritan, tarian dan ditampilkan seperti drama teater. Bahkan, pernah mengolaborasikan pertunjukan ini dengan musik bambu dan gamelan, serta dilengkapi peralatan lesung, lumpang, pemeran bapak/ibu petani, orang-orangan sawah dan tikus sebagai hama. Salah satu kreasi Kebo Kinul bahkan pernah dipentaskan di sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Swiss dan Belanda pada tahun 2005.

Dahulu, kesenian ini hanya dipertunjukkan saat panen raya sebagai ucapan syukur sekaligus sarana berdoa kepada Tuhan yang disebut masyarakat sebagai dewi padi, yakni Dewi Sri. Selain itu, sebagai tempat berlabuhnya harapan agar tidak ada hama dan masyarakat bisa memanen padi lagi. Hadirnya dua kidung dalam Kebo Kinul aliran Polokarto garapan Joko Ngadimin berupa Kidung Pari Sak Wuli dan Kidung Dewi Sri menambah kemagisan tradisi rakyat Sukoharjo ini. Tentu sayang untuk dilewatkan oleh para wisatawan yang ingin mengenal Sukoharjo lebih dalam lagi, bukan?

 

Penulis: Fitria Yusrifa

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password