Menuju Port Said, Berdesakan dengan Kambing di Kereta

Pantai Port Said Mesir

Enaknyakemana.com – Hari itu adalah 6 Oktober 2015, hari libur nasional bagi bangsa Mesir. Tanggal itu diperingati sebagai hari kemenangan Mesir melawan Israel dalam perang Oktober 1973. Mumpung kuliah libur, aku dan beberapa orang kawan menyempatkan diri untuk sekedar jalan-jalan ke Port Said (dalam bahasa Arab dilafalkan Bur Sa’id). Port Said adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di timur laut Mesir tepatnya di Laut Mediterania.

Di kota ini terdapat pelabuhan internasional yang dinamai sama dengan kotanya. Pelabuhan ini menghubungkan Laut Mediterania dengan Laut Merah melalui Terusan Suez. Selain terdapat pelabuhan besar di kota ini juga terdapat pantai yang menarik untuk dikunjungi.

Port Said dibangun pada tahun 1860 oleh Khediv Ismail, penguasa Mesir dibawah kendali Turki Utsmani. Menurut sejarah, di sinilah Kanal Suez pertama kali digali oleh seorang arsitek Perancis, Ferdinand de Leseps. Kanal Suez dibuka pada 17 November 1869 untuk pelayaran internasional.

Kami berangkat menuju Port Said menumpang kereta api dari Stasiun Ismailiyah. Tiket dari Ismailiyah ke Port Said dijual dengan harga 4,5 EGP atau sekitar Rp 7500 dengan waktu tempuh 1 jam 20 menit. Jangan kira kereta api di Mesir senyaman kereta di Indonesia. Kalau di tanah air, kereta ekonomi jarak jauh paling murah sekalipun sudah bersih dan ber-AC.

Kereta yang kami tumpangi di Mesir sangat menantang. Keretanya mirip kereta di Indonesia tahun 1960-an. Berjalan di gurun sahara, tidak ada AC, kursinya sekeras besi, pedagang hilir mudik di dalam gerbong dan bau kurang sedap tercium di mana-mana. Bau itu campuran dari bau pesing dari dalam toilet dan bau keringat para pedagang yang hilir mudik menjajakan dagangannya.

Kadang orang Mesir membawa binatang ternak seperti kambing dan domba ke dalam gerbong kereta. Sialnya binatang yang mereka bawa dibiarkan hilir mudik di dalam kereta.

Padang pasir, perkebunan mangga, kurma, atau anggur adalah pemandangan yang bisa dilihat dari dalam kereta. Saat melewati padang pasir kami merasa seakan terbang ke angkasa atau naik roller coaster. Kereta melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi di atas rel yang tampak rusak dan kadang terkubur pasir.

Setelah melewati padang pasir kereta kemudian melaju di tepian Terusan Suez. Terusan paling terkenal di dunia. Tampak kapal-kapal besar dengan berbagai macam bendera melaju pelan di atas permukaan kanal. Ada yang berbendara Cina, Uni Emirat Arab, Qatar, dan negera-negara lain di dunia. Di kejauhan tampak kapal Cina yang paling besar. Di tepian Kanal Suez pemandangan dari dalam kereta tak lepas dari iringan laju kapal-kapal besar.

Sepanjang kanal dijaga ketat oleh tentara. Barisan-barisan tentara di tepi kanal mengingatkanku pada masa lalu kanal ini, yakni ketika kanal dan tanah di seberangnya – Gurun Sinai – dikuasai Israel.

Baca juga : Ditertawakan Orang Mesir Gara-Gara Pakai Sarung

Kanal Suez saksi perang Israel vs. Mesir

Kereta menuju Port Said

Foto: Gun Gun Gunawan/Enaknyakemana

Tahun 1973 terjadi perang besar yang dilancarkan Mesir untuk merebut Sinai. Kanal Suez ini jadi saksinya. Saat itu tentara Mesir melancarkan serangan dengan menyeberangi kanal ini. Pada perang yang disebut Perang Oktober itu, pasukan Mesir berhasil merebut kembali Semenanjung Sinai yang beberapa tahun berada dalam cengkraman Israel.

Hari itu yang kemudian diperingati sebagai Antasharul Uktubar Al-Majid (kemenangan Oktober yang dibanggakan), yang jatuh pada tanggal 6 Oktober.

Terusan Suez kini menjadi dua jalur. Satu jalur untuk kapal ke arah laut Merah, dan satu jalur lagi untuk arah sebaliknya. Hingga saat ini penggalian New Suez Canal (Qanat Suwais Al Jadidah) masih berlangsung dan gencar dipromosikan. Pemerintah memilih slogan “Qanatu Suwais Min Ummi Dunya Likulli Dunya”, yang berarti “Kanal Suez dari Ibu Dunia untuk seluruh dunia.”

Kami tiba di stasiun Port Said sekitar pukul 13:15. Stasiun Port Said merupakan stasiun terakhir. Jadi tidak tidak ada sambungan ke kota lain selain ke Ismailiyah. Selanjutnya kami shalat zuhur di sebuah masjid yang tidak jauh dari stasiun.

Port Said tampak lebih bersih dan tertata. Masyarakatnya sudah banyak mengenal wajah-wajah Indonesia. Ketika melihat dan berpapasan dengan kami, mereka langsung menyapa “Apa kaba” (tanpa “r”). Padahal biasanya di kota-kota kecil di Mesir kami dianggap orang Cina. Maka tak heran jika kami sering dipanggil nihow disana.

Tapi ketika mereka tahu kami orang Indonesia mereka langsung bilang “Masya Allah, Indonesia jayid”. Ini tidak berlaku di Port Said. Sebagai kota wisata dan pelabuhan internasional, warga Port Said sudah terbiasa melihat wajah asing termasuk Indonesia.

Tujuan kami di Port Said adalah pantai. Tapi sebelum itu kami jalan-jalan dulu di pusat kota sambil cari makanan. Di sebuah sudut kota kami menemukan kedai makan yang menyediakan rupa-rupa makanan. Kebanyakan sandwich. Harganya cukup murah, berkisar antara 2-sampai 15 EGP.

Kebanyakan dari kami membeli Thamiya bil Baidh, roti isi telur dan sayuran. Banyak pula yang beli nasi ayam. Nasi ayam harganya 15 EGP. Isinya nasi lemak, kentang goreng dan ayam panggang seperempat (Orang Arab biasa membagi satu potong ayam menjadi dua atau empat potong).

Karena porsinya terlalu besar, maka satu porsi untuk dua orang. Selain supaya nggak mubazir, juga bisa untuk berhemat. Semua makanan dibungkus untuk dimakan di tepi pantai.

Pantai Port Said terletak tidak jauh dari pelabuhan. Pantainya panjang dan cukup bersih. Pintu masuk ke pantai dijaga tentara angkatan laut. Mereka kelihatan sangar. Tapi ketika kami memberinya salam dan tahu kami dari Indonesia mereka jadi ramah. Mereka malah ngajak ngobrol. Mereka tampak senang saat berkenalan dengan kami. Kesan tentara Mesir yang sangar dan tidak bersahabat hilang saat itu.

Kami berjalan di tepi pantai sembari menikmati deburan ombak Mediterania. Di tengah laut tampak kapal-kapal sedang berlayar. Sejak dahulu kala laut yang ada dihadapan kami merupakan tempat lalu lintasnya peradaban dunia. Peristiwa peristiwa besar dan bersejarah banyak terjadi di laut ini.

Peradaban-peradaban tua seperti Mesir, Yunani, Nabatea, dan Funisia pernah meramaikan laut ini. Kisah pertemuan Nabi Khidir dan Musa A.S. konon terjadi di laut ini. Pertempuran demi pertempuran antar peradaban besar terjadi di sini. Mediterania ibarat sebuah jembatan yang menghubungkan Timur dengan Barat.

Persilangan kebudayaan dari peradaban Mesir  ke Yunani dan Romawi dan sebaliknya juga melalui laut ini.  Aku malah sempat membayangkan berapa juta kapal dan kekayaaan yang tenggelam di dalamnya. Pasti sudah tidak terhitung.

Pada puncak kemajuan peradaban Islam, Mediterania seakan menjadi Danau Arab. Saat itu yang menjadi penguasa di Mediterania adalah bangsa Arab. Bahkan daratan yang ada di setiap tepi laut ini dulunya merupakan wilayah Islam; mulai dari Andalusia (Spanyol), Sisilia (Italia), Sardinia, Malta, Yunani, dan Balkan di sisi Eropa hingga Maroko, Tunisia, Aljazair, Libiya, dan Mesir di sisi Afrika, dan Palestina, Suriah, Lebanon, hingga Turki di sisi Asia.

Saat itu laut ini menjadi kabel yang membawa listrik yang menyalakan lampu-lampu peradaban di Eropa. Melalui laut inilah peradaban Arab/Islam menerangi Eropa berabad-abad silam dan membangunkannya dari mimpi buruk.

Baca juga : Gereja Gantung: Bukti Keindahan Toleransi di Mesir

Bumi para nabi

Senja di port said

Foto: Gun Gun Gunawan/Enaknyakemana

Saat teman-temanku asyik berfoto ria, Aku masih saja tertegun memandangi lautan luas nan bersejarah ini. Laut yang selama ini banyak disebut dalam buku-buku sejarah dunia. Laut yang melegenda. Laut yang mengantarkan pencerahan. Lautnya para nabi dan khalifah. Aku bersyukur bisa mengunjungi tempat itu.

Mungkin bagi orang lain pantai itu terlihat biasa saja. Bahkan pantai ini tidak lebih indah dibandingkan pantai Pangandaran di Jawa Barat. Apalagi jika disandingkan dengan pantai-pantai di Bali dan Lombok. Tapi pantai ini dan lautnya memiliki nilai yang tidak dimiliki laut lain, yakni nilai sejarah dan keagungan.

Matahari menyorotkan sinar keemasan dari ufuk barat, lalu sang laut memantulkannya. Muncullah harmoni warna yang maha indah. Warna yang hanya bisa dinikmati di sini. Di Bumi Para Nabi.

Namun, langit yang memerah tandanya sudah sore, yang artinya malam akan segera menyapa. Artinya kami harus pulang. Kami tidak boleh ketinggalan kereta. Tepat pukul 18:00 waktu setempat, kereta tujuan Ismailiyah akan berangkat. Kami beranjak pulang setelah sebelumnya mengabadikan momen bersama ini dalam jepretan kamera.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password