Yuk Jalan-jalan ke Bandar Bakau Dumai, Wisata Alam Eksotis nan Murah Meriah!

Untaian akar gantung ratusan bakau yang tumbuh di pesisir Malaka menjadi penyambut kedatangan para pengunjung. Sebuah jembatan kayu yang membelah kawasan hutan bakau menjadi dua bagian ini tampak kokoh ditempa arus waktu. Beberapa wisatawan sibuk mengabadikan momen kebersamaan di antara rindangnya bakau. Perahu-perahu dayung berukuran kecil tampak berlabuh di kaki jembatan, menjadi pemanis bagi indahnya panorama Ekowisata Bandar Bakau Dumai.

Kawasan Ekowisata Bandar Bakau Dumai berdiri di atas lahan seluas kurang lebih tiga puluh satu hektar. Berlokasi tidak jauh dari pusat kota membuat kawasan ekowisata ini ramai dikunjungi wisatawan, baik yang merupakan peneliti mancanegara maupun warga sekitar Bandar Bakau Dumai. Selama ini memang, Dumai dikenal sebagai kota pelabuhan terbesar di Riau. Selain karena letaknya yang persis di tepian Malaka, Dumai juga memiliki potensi bahari yang beraneka ragam. Tak heran apabila kota ini mengusung jargon “Pengantin Berseri yang Sehat”, sebagai bentuk representasi dari kualitas wilayah maritimnya yang mendunia.

 

Menjadi Bukti Nyata Penyelamatan Lingkungan Seorang Putra Daerah

(Foto: Blog Wina Azam)

Sekilas tak ada yang berbeda dari kondisi hutan bakau di Dumai apabila dibandingkan dengan hutan-hutan bakau di wilayah lainnya. Namun siapa sangka, hutan bakau ini menjadi monumen perjuangan masyarakat Dumai dalam mempertahankan kualitas alam bahari mereka. Beberapa dasawarsa silam, kawasan ini rencananya diperuntukkan bagi perluasan pelabuhan Pelindo Dumai. Adalah seorang aktivis lingkungan, Darwis Moh Saleh bersama teman-teman yang menentang keras rencana pembangunan ini karena dikhawatirkan akan semakin merusak alam pesisir di kota maritim ini. Perlu diketahui bahwa kawasan ini dahulu sempat mengalami kerusakan yang luar biasa parah dan dikhawatirkan akan tergerus abrasi pada beberapa tahun mendatang. Hal itu lah yang menggerakkan nurani Darwis dan rekan-rekan Pencinta Alam Bahari (PAB) untuk lantang menyerukan penolakan terhadap perluasan pelabuhan Pelindo Dumai di kawasan ini.

Perjuangan Darwis dimulai dengan penanaman bibit mangrove di kawasan Bandar Bakau. Darwis meminjam dana dari kawan-kawannya hanya untuk memulihkan kembali kondisi ekosistem pesisir Dumai ini. Tidak mudah bagi Darwis untuk mewujudkan mimpi besarnya itu. Berulangkali masyarakat menilainya gila karena bekerja secara percuma dan sia-sia, namun aktivis lingkungan itu tetap bertahan dengan semua upayanya. Tepat di tahun 2000, Darwis mulai gencar merangkul masyarakat untuk bersama-sama menanam mangrove. Beberapa penyuluhan dilakukannya demi membangun kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap keberlangsungan ekosistem di sekitarnya.

Kini, Darwis menuai hasil dari jerih payahnya melindungi kawasan konservasi bakau ini. Kawasan ini akhirnya dibuka untuk umum, terutama bagi peneliti yang ingin memperluas khazanah pengetahuan mengenai bakau. Bahkan, selain agrowisata bakau, terdapat pula Sekolah Alam Bandar Bakau yang memiliki visi penyelamatan lingkungan dalam bidang pendidikan. Sekolah itu dibuka setiap hari Minggu bagi pelajar sekolah dasar dan  dikelola oleh Darwis dan rekan-rekan Pecinta Alam Bahari (PAB).

 

Atraksi Wisata Apa Saja yang Bisa Dinikmati Pengunjung?

(Foto: harianriau.co)

Pesona alam yang dihadirkan oleh Kawasan Bandar Bakau Dumai ini tidak main-main. Pengunjung dapat mengekplorasi setiap sudut hutan bakau melalui jembatan kayu yang melintang di sepanjang area. Pengunjung juga dapat menikmati sejuknya udara pesisir saat melintasi jembatan kayu Bandar Bakau ini. terdapat dua puluh empat spesies mangrove di kawasan hutan bakau Dumai, salah satunya adalah bakau belukap yang saat ini begitu diperjuangkan oleh Darwis dan kawan-kawan untuk dilestarikan kembali. Belukap yang bernama latin Rhizophora Mucronata kini mulai mengalami kepunahan di sungai Dumai.

Sungai Dumai merupakan sungai yang membelah kota Dumai menjadi bagian Barat dan Timur. Sungai ini juga melintas di kawasan Bandar Bakau Dumai, dan bermuara tepat di lautan Malaka yang berada tak jauh dari Bandar Bakau. Kepunahan yang nyaris dialami belukap disebabkan oleh eksploitasi bakau sebagai bahan baku arang. Bahkan dahulu tempat produksi arang berada tepat di Pangkalan Bunting di muara Sungai Dumai.

Hadirnya Agrowisata Bandar Bakau Dumai setidaknya menjadi oase bagi tandusnya kesadaran masyarakat terhadap konservasi bakau, yang sejatinya bisa menahan laju abrasi suatu wilayah. Tak heran apabila kawasan ini dikunjungi oleh banyak wisatawan yang penasaran dengan bakau endemik khas Dumai dan aneka upaya konservasi yang tengah digalakkan oleh pengelola. Pada pertengahan tahun 2005 silam hingga saat ini, total pengunjung Bandar Bakau Dumai bahkan telah mencapai enam digit angka. Jumlah yang cukup fantastis bagi kawasan konservasi potensi bahari, terutama yang berada di pesisir Sumatera.

Bagi pengunjung yang tertarik mengikuti program penghijauan yang dilaksanakan rutin oleh pengelola, sangat disarankan untuk berkunjung ke kawasan Agrowisata Bandar Bakau Dumai. Selain itu, akan disediakan lokasi dan bibit penanaman bagi kelompok yang ingin melaksanakan kegiatan penanaman bakau bersama. Tentu sayang untuk dilewatkan, bukan? Sudah siap untuk ambil jeda sejenak dan berlibur ke tempat ini?

 

Penulis: Fitria Yusrifa

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password