Ketika Mahasiswa Ekonomi Lemah Bertemu Firaun di Museum

Ketika Mahasiswa Ekonomi Lemah Bertemu Firaun di Museum

Enaknyakemana.com – Saat itu Mesir sudah memasuki musim dingin. Meski matahari begitu terik tetapi hawa terasa dingin, hingga kami harus memakai baju tebal. Tepat pukul setengah dua siang kami bertolak dari Komplek Piramida Giza menuju Museum Tahrir – atau Egyptian Museum – di Ramsis, Cairo. Di sanalah aku bertemu Firaun di museum, dalam wujud mumi.

Museum itu terletak tidak jauh dari Lapangan Tahrir, lapangan yang terkenal saat terjadi gelombang unjuk rasa menurunkan Presiden Hosni Mubarak. Letaknya juga tidak jauh dari Sungai Nil dan Terminal Ramsis. Setelah naik transportasi umum yang memakan waktu sekitar 45 menit, kami tiba di bangunan museum dengan arsitektur bergaya Prancis.

Setelah mendapatkan tiket kami langsung masuk dan berpencar di dalam museum yang terbagi menjadi 3 kelompok koleksi utama. Ada Old Kingdom, Middle Kingdom, dan New Kingdom. Semuanya menampilkan peninggalan peradaban Mesir kuno sejak era kerajaan tua sampai kerajaan baru. Koleksinya tidak jauh dari reruntuhan bangunan, hieroghliph, peti kubur, sphinx, perabotan, kendaraan, pakaian, hingga pilar-pilar dan miniatur istana.

Semua koleksi yang kulihat itu membuat tercengang. Ternyata peti kubur, alat-alat rumah, dan lainnya yang digunakan saat itu begitu besar. Rasanya ganjil melihat lemari berukuran dua kali lipat dibanding yang ditaruh di kamar kita.

Aku sulit membayangkan setinggi apa pemilik lemari itu. Tapi sudahlah; perhatianku waktu itu berpindah ke salah satu koleksi paling menarik di Museum Tahrir, yakni koleksi mumi-mumi jasad Firaun.

Awalnya aku tidak berencana masuk ke ruang koleksi mumi itu. Alasannya karena harus bayar tiket lagi dan harganya cukup mahal. Untuk masuk ke ruangan itu, pengunjung harus merogoh kocek sebesar 75 pound atau sekitar Rp150 ribu.

Belum lagi koleksi mumi itu tidak boleh difoto, alasannya untuk keamanan; dan memang, disana-sini kulihat polisi bersenjata lengkap menjaga seantero ruangan museum. Namun akhirnya aku luluh juga ketika beberapa orang teman membujuk agar melihat mumi itu.


Baca juga:

Ditertawakan Orang Mesir Gara-Gara Pakai Sarung

Gereja Gantung: Bukti Keindahan Toleransi di Mesir

Alasan Mengapa Kamu harus Berwisata ke Mesir

Menuju Port Said, Berdesakan dengan Kambing di Kereta


“Masa’ jauh-jauh ke Mesir nggak lihat mumi Firaun. Cuma sekali seumur hidup. Apalagi ada kaitannya dengan keimanan kita. Itu bukti kebenaran Alquran,” demikian kata salah satu temanku. Dan akhirnya aku harus mengiyakan meski agak terasa berat. Maklum di mesir aku termasuk anggota imel – ikatan mahasiswa ekonomi lemah.

Aku berjalan pelan memasuki ruangan agak gelap dengan bau parfum yang aneh. Bau parfum khusus mayat. Agak serem sih. Tampak peti-peti kaca berbaris rapi. Semua peti itu berisi mayat-mayat Firaun yang diawetkan.

Kutengok satu persatu peti disana; di dalamnya bersemayam jasad keriput, berwajah suram, dan berbalut kain putih. Hanya kepala, tangan, dan kaki mereka yang bisa dilihat. Sisanya dibalut kain putih.

Aku terus berjalan dalam keremangan cahaya lampu hingga menemukan sesosok manusia yang selama ini banyak dikisahkan. Kisahnya tertulis dalam dalam kitab suci Kristen dan Islam.

Akhirnya aku bertemu Firaun di museum. Namanya Ramses II, yang dipercaya hidup pada zaman Nabi Musa AS atau sekitar 2000 tahun sebelum masehi.

Museum Egyptian, Tahrir, Mesir

Mumi Ramses tampak paling beda dibanding mumi lain. Jika tangan mumi-mumi lain bersedekap rapat, maka sedekap tangan mumi Ramses II tidak rapat sempurna. Tampaknya ketika ditemukan mayatnya sudah kaku hingga tangannya tidak bisa disedekapkan.

Fakta ini membawa imajinasiku ke masa lalu, saat dia masih hidup. Dalam tradisi Islam maupun Kristen diceritakan bahwa Firaun mengejar Nabi Musa dan Bani Israel yang menyeberang ke Palestina menghindari kekejamannya.

Dikisahkan ketika Nabi Musa AS membelah lautan, beliau dan pasukannya berhasil menyeberang, sementara Firaun dan bala tentaranya mengikuti dari belakang. Hingga ketika Nabi Musa dan pengikutnya sudah menyeberang, Allah menyatukan kembali lautan yang terbelah. Maka tenggelamlah Firaun dan bala tentaranya.

Posisi tangan Ramses II yang tidak bisa bersedekap menguatkan kisah-kisah dalam Alquran bahwa Allah menyelamatkan jasad Firaun agar menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahnya. Kemungkinan saat itu jasad Firaun langsung dijadikan mumi begitu ditemukan dalam keadaan kaku di pinggir pantai.

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” [QS.Yunus:92]

Ketika bertemu Firaun di museum, lama sekali aku menatap wajah kaku si raja. Walau sudah lama mati, wajah mumi Ramses II seolah-olah sedang menahan sakit. Namun itu tak menghalangi temanku mengeluarkan sedikit wejangan dari bibirnya.

“Dulu kamu sombong wahai firaun. Kini kamu terbaring, tidak bisa apa-apa. Dulu kamu raja dan berkuasa. Kini kamu hanya seonggok daging yang diawetkan. Dulu kamu berpakaian megah, pakaian kebesaran, sekarang kamu hanya berpakaian sehelai kain lusuh”.

Aku camkan kata-kata itu sambil kutatap terus wajah itu. Aku bergidik, dulu sosok yang aku tatap itu pernah hidup. Bahkan dia adalah Raja. Dan kematian adalah sesuatu yang mesti datang. Tidak ada yang bisa lari dari kematian.

Aku, kamu, kita. Semuanya akan mati. Cukuplah mumi ini sebagai pelajaran. Aku bertemu Firaun di museum, dan aku mengambil hikmah darinya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password